Foto & Video

berita » Berita Terbaru
Rabu, 09 Juni 2010 Pukul 17:43 WIB

Mengapa Sawit Perlu Ditolak?

PADANG-Menurut Inda Fatinaware dari Sawit Watch pertama karena Mentawai itu pulau kecil dengan struktur tanah yang masih muda. Perkebunan sawit skala besar bukan hanya akan merusak tanah tetapi juga akan merusak keanekaragaman hayati (biodiversity), apalagi Mentawai memiliki banyak flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Kedua, sebatang sawit membutuhkan rata-rata 25 liter air. Dengan membuka 73.500 hektar perkebunan kelapa sawit, dipastikan Mentawai akan mengalami krisis air untuk MMMCK (Minum Masak Mandi Cuci Kakus). Belum lagi kalau pencemaran limbahnya dihitung. Di Kalimantan sudah banyak keluhan menghilangnya sumber-sumber air bersih dan sungai-sungai gara-gara sawit.

Ketiga, akses ke hutan akan tertutup. Ada berlapis UU yang akan menghadang masyarakat memasuki hutan yang dicadangkan untuk perkebunan sawit. Yang jelas hutan dan segala isinya takkan ada lagi begitu perusahaan mendapatkan HGU. Di mana kayu bakar akan diambil? Bagaimana sampan baru dibuat? Dari mana kayu untuk rumah dan kandang babi? Di mana kerei mendapatkan daun-daun obat? Di mana ibu-ibu mendapatkan sayuran, ikan dan lain-lain? Semua harus dibeli.

Keempat, tanah masyarakat akan hilang selamanya dan setiap protes akan dihadapkan pada ketentuan hukum dan aparat bersenjata yang takkan segan-segan menindak tegas pemrotes. Tahun 2008 terjadi 513 konflik lahan sawit, tahun 2009 jumlahnya meningkat menjadi 565 konflik antara perusahaan dengan masyarakat yang telah melepaskan tanahnya dan bingung ketika tanah itu tak bisa dimiliki lagi. Semua ditindak tegas dan rakyat kalah.

Kelima, tak ada lagi waktu untuk bersantai, karena setelah menjadi buruh di kebun sawit yang katanya milik sendiri, masyarakat harus bekerja keras lebih dari 10 jam sehari, menyiang, menyemprot, mendodos, mengumpulkan TBS (tandan buah segar0 untuk dibawa ke pabrik karena umurnya hanya 24 jam, dan seterusnya. ran

Contact form