MAILEPPET-Tak kurang dari 1 ton beras miskin (raskin) untuk Kecamatan Siberut Selatan hilang dalam pendistribusian, demikian pernyataan Rafael, Distributor Raskin Kecamatan Siberut Selatan pada Puailiggoubat 30 Mei lalu.
Ia mengatakan setiap distribusi raskin oleh distributor kantor Badan Urusan Logistik (Bulog) yke gudang kecamatan dengan yang didistrusikan ke desa-desa jumlahnya selalu tidak cocok. “Jumlah yang masuk banyak, sedang yang keluar sedikit, selisih jumlah itu terjadi tiap distribusi beras,” katanya.
Ia menambahkan raskin pernah kurang mencapai 4 ton tanpa diketahui penyebabnya. Ia menduga selisih jumlah raskin terjadi karena adanya salah perhitungan, bisa dari kapal ke mobil-mobil pengangkut, bisa juga ketika mengeluarkan raskin dari gudang kecamatan ke desa-desa. Kesalahan perhitungan bisa terjadi karena perhitungan manual yang dilakukan di atas kapal kadang terlalu cepat. “Itu mungkin salah satu penyebabnya,” duganya.
Selisih ini telah ia laporkan kepada camat sehingga pihaknya diperintahkan untuk lebih teliti pada saat perhitungan raskin dari kapal dan gudang. Walau sudah dilakukan perhitungan dengan teliti selisih itu selalu saja terjadi, contohnya saja pada distribusi akhir Mei lalu, jumlah raskin juga kurang hampir mencapai angka 1 ton, namun ia tak menyebut angka pastinya.
Ia membantah kurangnya raskin karena ada unsur kesengajaan dari gudang atau penggelapan raskin. “Kami tidak perna melakukan penyalahgunaan distribusi, berapa jumlah yang kami terima itu juga yang kami distribusikan ke desa-desa walau selalu ada selisih jumlah,” katanya.
Ia juga mengatakan gudang selalu aman, terkunci dengan rapi tak ada tanda-tanda pencurian. Sri Hastuti, petugas lain mengaku jumlah raskin yang didistribusikan memang selalu terjadi selisih atau kekurangan namun angkanya tak terlalu signifikan. Seperti akhir Mei lalu jumlah raskin yang kurang menurut catatannya hanya 27 karung. Dengan berat 15 kilo gram per karung maka beras yang hilang di tangan distributor kecamatan sebanyak 405 kilo gram, hampir setengah ton.
”Itu angka yang ada dan menurut catatan saya selama distribusi kemarin, kalau jumlahnya sampai berton-ton saya tidak tahu apa penyebabnya lagi,” katanya. Baik Sri dan Rafael sama-sama berargumen kekurangan raskin disebabkan kesalahan perhitungan dari kapal ke gudang atau dari gudang ke desa-desa.
Kalau 27 karung raskin yang hilang Mei lalu, maka telah menghilangkan makanan masyarakat sebanyak 6 keluarga dengan hitungan jatah per kepala keluarga sebanyak 4 karung.
Akibat ketidaksesuaian jumlah beras yang diserahkan Bulog dengan yang didistribusikan ke desa-desa, maka di setiap distribusi beras pihak kecamatan terpaksa menutupi uang pembayaran raskin yang tidak sesuai karena jumlah pembayaran dari masyarakat ditambah beras yang hilang tak sama agar jumlahnya pas.
Camat Siberut Selatan, A.Arifianto yang dikonfirmasi mengenai kehilangan beras ini tak bisa diminta komentarnya karena tak berada di tempat tugas, dihubungi ke handphonenya juga tak direspon. gsn