Foto & Video

berita » Berita Terbaru
Jumat, 16 Juli 2010 Pukul 16:05 WIB

Bappeda Tak Izinkan Jalan Lingkar dan Jalur Evakuasi

MAILEPPET-Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kabupaten Kepulauan Mentawai menegaskan pada masyarakat Desa Maileppet Kecamatan Siberut Selatan melalui OMS (Organisasi Masyarakat Setempat)  pembangunan dan jembatan  harus menuju Dusun Limu atau Gotap Kecamatan Siberut Tengah.

Bappeda menekankan  jalan yang dibuat masyarakat melalui program P2D Mandiri harus merupakan jalan penghubung antar desa atau dusun. Bappeda tidak mengizinkan pembuatan  jalan evakuasi dan jalan lingkar desa karena tidak sesuai dengan sasaran pembangunan jangka menengah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Pernyataan Bappeda yang mengharuskan pembuatan jalan menuju Limu atau Gotap disampaikan Seltius Sibulatnia, PPTK (Pejabat Pelaksanan Teknis Kegiatan) P2D Mandiri Kecamatan Siberut Selatan dalam sosialisasi program itu kepada masyarakat Maileppet 7 Juni lalu di Kantor Desa Maileppet. “Itu adalah ketentuan Bappeda yang harus dilaksanakan oleh seluruh kecamatan yang ada di Mentawai,” katanya.

Ia menegaskan pilihan hanya 2, ke Limu atau Gotap. Ia menganggap jalan penghubung dari Desa Maileppet menuju Muntei dan jalan evakuasi sudah cukup.

Pernyataan Bappeda yang disampaikan Seltius ikut didukung Idris Siregar, Kepala Desa Maileppet. Ia mengatakan usulan penambahan jalur evakuasi dan jalan penghubung dari Maileppet ke Muntei ditolak mentah-mentah oleh Bappeda. “Usulan itu sudah saya sampaikan ke Bappeda, namun itu dicoret semua kemudian diperintahkan untuk buat jalan penghubung ke Limu atau Gotap,” ujarnya.

Pengharusan Bappeda itu kontan ditentang masyarakat, mereka menilai Bappeda semena-mena mengarahkan jalan, tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Sebagian besar masyarakat menilai pemaksaan arah jalan ke Limu sangat bertentangan dengan azas manfaat seperti prinsip program itu yang disebutkan Seltius sendiri.

Besman Saleleubaja, salah seorang masyarakat mengatakan Bappeda sangat keterlaluan kalau memaksakan jalan ke Limu atau Gotap karena sebagian masyarakat masih butuh jalan evakuasi dan jalan penghubung ke Muntei. Selain itu medan jalan ke Limu atau Gotak sangat berat, banyak bukit yang harus didatarkan dan jurang dalam. Belum lagi tunggul-tunggul kayu raksasa yang hanya akan bisa dikerjakan dengan alat berat seperti bulldozer atau escavator.

“Medan jalan sangat berat, tidak mungkin bisa dilakukan secara manual dengan dana P2D yang sedikit, keputusan Bappeda sunggu tidak masuk akal,” katanya.

Ia menyatakan masyarakat akan kesulitan menaikkan material seperti pasir, kerikil dan semen ke atas karena bukit sangat tinggi. “Tidak mungkin gerobak pengangkut material masyarakat naik dengan medan yang tinggi dan curam ditambah lagi tanah licin, bisa-bisa gerobak mundur ke belakang dan menimpa pekerja,” ujarnya.

Ia dengan tegas menolak pembuatan jalan menuju ke Limu karena kurang bermanfaat bagi masyarakat dan bukan keinginan warga. “Berarti kerja Bappeda bukan mensejahterakan masyarakat namun menjadikan kami pekerja paksa seperti zaman rodi Belanda,” protesnya.

Ia menyampaikan kalau OMS  tetap dipaksa harus buat jalan ke sana maka hanya dua kemungkinan yakni jalan tak akan selesai dan masyarakat masuk penjara atau mati saat bekerja karena medan berat. “Tolong dipertimbangkan lagi arah jalan ini secara logis, jangan asal main paksa seperti gaya Soeharto. Pokoknya kami tak setuju,” tegasnya.

Ronal Simanjuntak, seorang calon OMS pelaksana pembuatan jalan itu mendukung pendapat Besman. Ia mengatakan masyarakat sangat menderita kalau dipaksa membuat jalan ke Muntei atau Limu. \"Kalau tidak masuk penjara, kami mati kalau dipaksa buat jalan ke arah itu,” sahutnya.

Masyarakat lain yang berjumlah sekitar 20 orang yang ikut sosialisasi itu juga ikut mendukung pendapat Besman dan Ronal Simanjuntak, namun keluhan dan alasan masyarakat kandas karena rekomendasi dari Bappeda. “Itu sudah juknis yang diberikan ditetapkan oleh Bappeda, bahwa jalan evakuasi dan lingkar tidak boleh lagi,” katanya.

Ia lebih menegaskan jika masyarakat tidak mampu membuat jalan ke arah Limu atau Gotap maka dana buat Maileppet sebesar Rp750 juta akan dialihkan ke desa lain atau dana dikembalikan ke kas daerah.gsn

Contact form