Artikel » Budaya/Budaya Mentawai

Keterikatan Suku Mentawai dengan Hutan

Oleh:
Jumat, 18 November 2011 | 14:27:00 WIB
Keterikatan Suku Mentawai dengan Hutan

Keterikatan Suku Mentawai dengan Hutan:

Gerson Merari Saleleubaja

Dalam kepercayaan mereka merusak hutan sama saja merusak kehidupan,  dan aturan itu ada dalam kehidupan adat istiadat mereka yang dikenal dengan kearifan lokal. Di masa lalu masyarakat Mentawai juga mengenal panaki, suatu upacara untuk membuka hutan menjadi ladang. Dengan guntingan kain kecil-kecil yang disangkutkan pada satu tiang kayu, mereka yang membuka hutan meminta izin kepada penguasa hutan agar penguasa itu tidak terkejut. Tanpa panaki, pembukaan hutan menjadi ladang tidak mungkin dilakukan.

Ya mungkin hal ini akan jadi naif jika disandingkan dengan ajaran agama yang ada saat ini, namun di Mentawai tidaklah demikian karena walau pun telah menganut agama formal, ritual meminta izin (Panaki) kepada leluhur kalau akan melakukan aktivitas di hutan tetap dilakukan.

Masyarakat tradisional Mentawai percaya bahwa hutan merupakan kepercayaan tradisional yang diyakini sebagai tempat roh-roh leluhur yang turut menjaga segala jenis tumbuh-tumbuhan obat yang sangat berguna bagi kelangsungan hidup manusia, kepercayaan tersebut dikenal dengan Arat Sabulungan. . Alam sangat dihormati karena mereka percaya semua benda yang hidup ada pemiliknya. Tentu saja pemilik akan marah jika yang dimilikinya dirusak.

Kepercayaan itu mengajarkan manusia untuk memperlakukan alam, tumbuh-tumbuhan, air, dan binatang seperti dirinya.

Daun bagi suku Mentawai dianggap memiliki kekuatan magis untuk menyembuhkan dan menghidupkan. Daun selalu ada dalam upacara-upacara suku Mentawai. Masyarakat Mentawai pun dikenal dengan kemampuan mereka yang menakjubkan, yakni menyembuhkan orang sakit dengan menggunakan daun-daunan liar yang tumbuh di hutan. Daun juga dipercaya mampu menghubungkan manusia dengan penguasa jagat raya yang disebut Ulau Manua.

Oleh karena itu setiap mengambil sesuatu di dalam hutan seperti kayu buat rumahnya mereka selalu menanam yang baru, sehingga kelestarian hutan di Mentawai tetap terjaga.

Seiring masuknya pengaruh dari luar, baik masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan Indonesia, sabulungan tidak bisa lagi dilakukan dalam bentuk formal. Sabulungan dianggap kepercayaan yang sesat, bahkan segala atribut mereka dibakar dan dimusnahkan. Padahal, yang mereka sembah adalah penguasa langit dan bumi yang tidak kelihatan, yang oleh sejumlah agama disebut Tuhan.

Meski demikian, sabulungan tetap hidup dalam jiwa masyarakat suku Mentawai. Mereka arif menjaga dan melindungi hutan di tanah mereka melalui peraturan adat.

Menebangnya pun dengan sistem tebang pilih, tidak boleh sembarangan. Sebelum menebang pohon atau hutan, harus pula diadakan punen  atau lia yang merupakan suatu upacara adat semacam permintaan izin dan ucapan terima kasih.

Tidak hanya menebang hutan, mengotori air juga merupakan suatu tindakan yang tidak bisa dibenarkan, bahkan bisa mendatangkan hukuman berupa denda adat. Denda itu setara dengan seekor babi, yang termasuk harta berharga bagi masyarakat Mentawai. Di sungai, buang air kecil saja dilarang, apalagi buang air besar, sangat tidak diperbolehkan karena air adalah sumber kehidupan. Air dari hulu ke hilir sungai memang terlihat bersih tanpa pencemaran.

Meski masyarakat Mentawai saat ini sudah memeluk agama formal, seperti yang diharuskan pemerintah, kearifan lokal itu masih terjaga. Masyarakat Mentawai yang hidup di pedalaman masih menjaga tradisi menghormati alam semesta. Salah satu bentuk sabulungan saat ini terwujud dalam upacara penyembuhan orang sakit oleh sikerei.

Tidak hanya daun yang berkhasiat untuk menyembuhkan si sakit, hutan pun memberikan kayu yang bagus yang bisa dibuat sampan jika keseimbangannya dijaga. Sampan merupakan sarana vital masyarakat suku Mentawai untuk saling berhubungan antara satu daerah dengan daerah lain..

Karena  kearifan lokal yang  sering disebut sabulungan yang mendarah daging di dalam suku Mentawai, mereka bisa menentukan tempat yang tepat untuk berladang. Ladang mereka selalu aman, jauh dari bencana longsor, misalnya, karena mereka mengganti pohon yang ditebang dengan tanaman baru.

Namun, kearifan lokal itu dalam menjaga hutan harus bentrok dengan hak pengusahaan hutan (HPH) dan izin pemanfaatan kayu (IPK) yang mulai marak di Pulau Siberut. Sekitar tahun 1970-an pemerintah membagi hutan Siberut seluas 408.000 hektar untuk empat HPH dan hanya menyisakan 6.000 hektar untuk suaka margasatwa serta 65.000 hektar untuk permukiman dan pertanian.

Sejak tahun 2001 Pemerintah Kabupaten Mentawai memberikan lagi HPH kepada PT Koperasi Andalas Madani (KAM) dan kepada PT Salaki Summa Sejahtera (SSS). Selain kerusakan ekologi, kehidupan sosial budaya masyarakat suku Mentawai pun terancam.

Selain sebagai pendukung kehidupan masyarakat, hutan Mentawai merupakan ekosistem bagi sejumlah satwa endemik yang hanya ditemui di Kepulauan Mentawai, antara lain joja atau lutung mentawai (Presbytis potenziani), bokkoi atau beruk mentawai (Macaca pagensis), simakobu (Simias concolor), dan bilou atau siamang kerdil (Hylobates klosii).

Monyet-monyet itu pun merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat suku Mentawai. Berburu monyet merupakan bagian dari tradisi masyarakat Mentawai. Selain itu, tampak pula dalam ukir-ukiran hiasan dinding yang merupakan jimat yang dipasang di atas pintu masuk ruangan kedua dalam sebuah uma. Ukiran yang disebut jaraik itu berwujud tengkorak monyet, biasanya bokkoi jantan dewasa.

Namun ancaman perusakan tatanan social, budaya dan ekonomi tak hanya sampai di situ, ancaman baru yang lebih mengerikan yang akan di alami oleh hutan dan masyarakat Mentawai adalah dengan diberinya izin perkebunan kelapa sawit oleh Edison Saleleubaja, Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai yang akan menghajar ribuan hektar hutan dan ladang masyarakat Mentawai.

Sudah dipastikan tanaman seperti durian, langsat dan sagu yang menjadi sumber makanan dan sebagai alat budaya akan musnah oleh serakahnya segelintir penguasa di Mentawai.***

Komentar

obedh anas saleleu
Jakarta
Sabtu
03 Maret 2012 | 10:20:00 WIB
Yth, pak Gerson saleleubaja saya hanya sedikit koreksi pemahaman anda masalah konsep Tuhan dan Sabulungan, dgn orientasi peyembahan sikerei. tolong diperbaiki, karena konsep penyembahan arat sabulungan adalah kepada roh/makluk gaip (animisme) atau kepada roh nenek moyang mereka. oleh karena itu, ada perbedaan pandang / pemahaman.....

Kirim Komentar

  kode:
PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.