Artikel » Opini/Podium

Kelapa Sawit, Kisah Tanpa Akhir

Oleh: Sr. Maria Veronika SFS Terlibat dalam kegiatan JPIC OFM (Justice, Peace and Integrity of Creation )
Rabu, 11 April 2012 | 13:11:00 WIB
KELAPA SAWIT,  KISAH TANPA AKHIR!!!

KELAPA SAWIT, KISAH TANPA AKHIR!!!:

Mengenal Kekuatan Kepulauan Mentawai secara Geografis & Tipologi dari kelapa sawit.

Mentawai adalah bagian dari serangkaian Non-Vulkanik yang membentuk gugusan menjadi puncak-puncak dari suatu punggung pegunungan bawah Laut. Letaknya sekitar 100 km dari sebelah Barat pantai pulau Sumatera dan terdiri dari 40 pulau kecil & besar serta dikelilingi oleh Samudera Hindia(Laut Lepas). Luas Kepulauan Mentawai hanya 6.700 km2. Kepulauan Mentawai tak bergunung, tapi berbukit sekitar 500 meter tingginya. Tipologi orang Mentawai umumnya berbadan kuat, kekar, sehat. Sifat orang Mentawai baik, ramah, kreatif, berjiwa seni dan mampu menciptakan sesuatu yang berdaya guna, lepas dari itu semua orang Mentawai adalah Pribadi yang sangat Religi terhadap alam. Hidup mati mereka berasal dari alam (mone). Makanan khas mentawai adalah sagu, talas/keladi dan sejenisnya, pisang, ubi kayu/ubi jalar yang semuanya itu berasal dari ladang, menu tambahan lainnya dari laut dan sungai.

Seluk Beluk Penindasan dan Perusakan lingkungan Hidup akibat Kelapa sawit

Kekayaan alam yang harusnya dimanfaatkan secara arif demi kesejahteraan rakyat telah lama mengalami salah kelolah. Ragam Regulasi negara telah menyebabkan aset-aset alam seolah menjadi kutukan. Kini alam terancam bencana ekologis akibat akumulasi dari krisis ekologi dan gagalnya pengurusan alam yang telah menyebabkan kolapsnya pranata kehidupan rakyat. Penghancuran terhadap alam terus meningkat karena lemahnya kebijakan hukum. Demikian terjadi pada sektor perkebunan kelapa sawit. Perluasan kelapa sawit sudah jauh dari kebutuhan domestik akan sawit. Pengusaha perkebunan kelapa sawit kini diberi keleluasaan menguasai areal hingga 100.000 hektar di satu wilayah provinsi atau kabupaten. Dengan demikian kalau kita kritisi secara geografis kepulauan mentawai, maka kepulauan mentawai akan dihantar pada babak baru sejarah mentawai yakni: kebangkrutan dan bencana ekologis. Sebab luas kepulauan mentawai dengan luasnya perkebunan kelapa sawit yang telah dipatok oleh para Pemodal dan pengusaha sangat tidak memadai. Ibarat berada di kapal, bila muatan melebihi kapasitas yang ada maka kapal akan tenggelam. Dan kemungkinan ini akan terjadi di kepulauan mentawai apabila perkebunan kelapa sawit sudah mendapat tempat di tanah mentawai Bumi Sikerei itu!.

Keuntungan segi finansial untuk pelaku usahanya

Kelapa Sawit bagi para pelaku usahanya adalah tanaman yang mampu memberikan keuntungan besar dengan nilai ekspornya yang tinggi. Maka mereka berusaha membuka perkebunan kelapa sawit dimana-mana. Nilai ekspor yang dihasilkan memang tinggi, sehingga pemerintah pun tergiur akan pembagian keuntungan yang didapat dari kelapa sawit, sehingga banyak izin perusahaan perkebunan yang diloloskan tanpa kejelasan yang pasti. Kelapa Sawit hanya menguntungkan Para pelaku usahanya seperti Para Pemodal, investor, Para Pejabat, Agen atau mereka yang dibayar secara kusus.  Memang benar bahwa perkebunan kelapa sawit menyerap tenaga kerja untuk perkebunan, memberikan devisa untuk negara tetapi di balik itu semua banyak pula kontroversi yang ditimbulkan berupa hal-hal negatif. Keuntungan finasial memang didapat dari hasil perkebunan kelapa sawit tersebut, tapi hal itu hanya berlaku bagi para pelaku usahanya sedangkan bagi rakyat? Apa yang kita dapat ? Devisa yang belum tentu masuk ke kas negara?. Kalau pun toh pada akhirnya rakyat mendapat bagian, itu karena “mereka” adalah pekerja atau tenaga kuli dan sebagai pekerja memang patut mendapat upahnya bukan?

Pengaruh buruk perkebunan kelapa sawit Pengaruh perkebunan kelapa sawit terhadap lingkungan masyarakat

Perkebunan kelapa sawit juga berpengaruh buruk terhadap lingkungan masyarakat baik terhadap budaya setempat ataupun masalah sosial lainnya. Masuknya perkebunan kelapa sawit ke daerah-daerah terpencil akan mengubah sistem pertanian tradisional menjadi sistem pertanian industri yang belum tentu membawa dampak positif bagi masyarakat di daerah tersebut. Perkebunan kelapa sawit juga dapat menyebabkan hancurnya tatanan adat dan kebiasaan hidup masyarakat adat, terciptanya kemiskinan struktural, konflik tanah yang berkepanjangan (masalah kepemilikan tanah perkebunan), konflik antarkelas, masa dan penguasa, kepentingan investor-kapitalis dengan masyarakat setempat dsb. Disini fakta yang selalu terjadi adalah hegemoni kepentingan oleh sekelompok tertentu, pemaksaan kehendak oleh orang yang ber-Power, pelucutan hak kaum tak berdaya. Di Mentawai, kita diwarisi sistem budaya sasi, yakni pelarangan mengambil hasil hutan atau hasil laut sebelum waktunya. Budaya peninggalan para leluhur ini berlangsung sejak ratusan tahun lamanya. Budaya sasi di hutan bisa dijalankan jika tanaman di hutan itu beraneka ragam.

Saat hutan di sulap menjadi perkebunan sawit maka secara otomatis yang tumbuh hanya satu jenis tanaman saja yakni kelapa sawit. Tentu saja, kondisi ini akan mengakibatkan perubahan hidup masyarakat dan budaya sasi kedepan terancam hilang. Generasi kita yang berikutnya akan semakin miskin budaya. Khusus di banyak kampung di Sumatera, pembukaan lahan untuk perkebunan sawit juga merusak berbagai tempat keramat seperti kuburan nenek-moyang mereka. Perkebunan sawit juga berdampak buruk pada hak masyarakat adat atas tanah ulayat (warisan), dan ini berpotensi menciptakan konflik di kemudian hari. Perusahaan sawit memerlukan lahan yang luas untuk mendapat keuntungan besar. Di samping itu, pemerintah daerah se-Indonesia merencanakan melakukan perluasan hingga 20 juta hektar perkebunan kelapa sawit sebelum tahun 2020. Sebagian besar tanah yang dimaksud untuk perluasan lahan itu adalah tanah yang dikuasai oleh masyarakat secara pewarisan, hal ini tentu semakin memperparah keadaan menjadi semakin rumit karna akan ada banyak permasalahan yang muncul.

Pengaruh perkebunan kelapa sawit terhadap alam sekitar

Pada zaman yang seperti ini seharusnya kita lebih bijak dalam pemanfaatan alam sekitar termasuk pemanfaatan lahan/pumonean di Mentawai. Produksi kelapa sawit telah dinyatakan sebagai penyebab kerusakan terhadap lingkungan alam. Dampak yang timbul meliputi: deforestasi (penurunan secara kualitas dan kuantitas sejumlah areal hutan), hilangnya habitat dan spesies tertentu, dan peningkatan yang signifikan dalam gas rumah kaca (emisi). Kondisi ini diperburuk karena banyak hutan  dan lahan berbaring di atas rawa gambut yang menyimpan sejumlah besar karbon yang dilepaskan ketika hutan ditebang dan rawa dikeringkan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit, tentu hal ini berakibat buruk untuk lingkungan. Beberapa ilmuwan juga mengeluarkan pernyataan bahwa perkebunan kelapa sawit melepas lebih banyak karbon dibandingkan dengan hutan tropis alami. Bahkan, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit, jika dibangun di daerah lahan gambut, menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan dengan hutan alami. Jika penggunaan pupuk dan emisi dari proses dimasukkan ke dalam perhitungan, dampak pada iklim dari pengubahan hutan alami untuk kelapa sawit lebih besar lagi. 

seperti kasus pada tumbuhan apapun, pohon-pohon kelapa sawit memang membutuhkan karbon karena saat mereka tumbuh (karbon adalah kebutuhan pertumbuhan dasar dalam jaringan tumbuhan). Walau demikian, proses penggundulan hutan dalam rangka mendirikan sebuah perkebunan melepaskan lebih banyak karbon dibandingkan yang akan digunakan oleh kelapa sawit-kelapa sawit yang akan tumbuh. Jadi, sementara sebuah perkebunan kelapa sawit baru akan tumbuh lebih cepat dan membutuhkan karbon lebih tinggi, dan pada hitungan tahunan  itu menjadi lebih buruk dibandingkan dengan hutan alami yang terus beregenerasi.

Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit ternyata seringkali menjadi penyebab utama bencana kebakaran hutan dan lahan . Hal ini terjadi karena dalam kegiatan pembukaan lahan (land clearing) untuk membangun perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan cara membakar agar cepat dan biayanya murah. Berbagai pemberitaan media masa dan hasil penelitian lapangan menyebutkan bahwa sebagian besar kejadian kebakaran hutan dan lahan berada di (berasal dari) lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri (HTI). Penyebab utama kebakaran hutan tersebut diidentifikasi sebagai faktor kesengajaan oleh manusia (yang diperburuk oleh faktor alami, yaitu terjadinya musim kering yang panjang akibat El-Nino), yaitu perusahaan secara sengaja melakukan pembakaran, atau perusahaan perkebunan "membayar" penduduk lokal untuk melakukan pembakaran dalam kegiatan pembukaan lahan untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit.         

Selain merusak lingkungan dengan emisi gas rumah kaca dan kebakaran hutan, perkebunan kelapa sawit juga merusak habitat spesies lain diantaranya yang paling parah adalah spesies primata dari pulau kalimantan yaitu orang utan yang kini terancam punah karna pengalihan hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit. Dalam UU RI sudah di tetapkan bahwa hewan langka seperti orang utan dilindungi oleh pemerintah dan tidak boleh diburu, tapi nyatanya karna habitat mereka yang diambil alih oleh kelapa sawit akhirnya mereka menjadikan perkebunan itu sebagai habitat baru dan karna itulah para orang utan ini diburu dan dibunuh karna dianggap hama perusak kelapa sawit. Hal-hal inilah yang memicu dilematika perkebunan kelapa sawit di Indonesia di satu sisi banyak keuntungan yang didapat dari nilai jualnya yang tinggi tapi banyak hal negatif yang harus didapatkan.

Kelapa Sawit & Problematikanya

Kelapa sawit adalah ancaman serius didepan mata, sebab revolusi hijau dan varietas lokal akan hilang, melahirkan ketergantungan baru pada pupuk kimia dan peptisida serta keragaman hayati lokal dan ketahanan pangan akan rontok. Bencana Ekologis akibat kelapa sawit tak terelakkan. Dari hasil penelitian & survei diberbagai tempat secara langsung, perkebunan kelapa sawit sarat dengan masalah. Mulai dari pencemaran lingkungan hidup, pelanggaran HAM, kejahatan ekonomi, konflik antara perusahaan dengan penduduk lokal yang berkisar pada perampasan tanah juga penguasaan lahan penduduk. Pencemaran lingkungan, mulai dari tanah yang tidak dapat dipulihkan lagi keberadaannya, kering, keras, meranggas, pencemaran air yang menjadi sumber pokok hidup manusia, kesehatan, kekeringan sehingga melahirkan abrasi dan memicu banjir. Dimana-mana yang namanya perkebunan kelapa sawit di berbagai tempat, kota, kampung,  dan provinsi selalu meninggalkan dan menciptakan kerusakan, penindasan, pencemaran dan penderitaan yang tidak bisa diganti dengan uang miliaran rupiah. Ketika masa kontrak kelapa sawit habis di tanah kita, maka para investor, pejabat dan pemilik modal akan pergi begitu saja dengan meninggalkan kerusakan lingkungan dan hidup kita sendiri dengan cara yang tak termaafkan. Sehingga, kepada siapa nantinya generasi penerus melangsungkan hidupnya? Akankah kesejahteraan masyarakat diwakilkan kepada lembaga asing?Apakah kita masih memiliki hati bila melihat generasi berikutnya mati kelaparan di tanahnya sendiri?

Peran PEMDA

Dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat secara keseluruhan, maka sangat dibutuhkan peran PEMDA secara total, sudah merupakan Hak dari setiap warga  untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Dalam kasus perkebunan (pembukaan) lahan sawit ini, maka PEMDA harus benar-benar memperhatikan segala sesuatunya secara detail agar tidak menjadi permasalahan baru dalam masyarakat di kemudian hari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran industri perkebunan kelapa sawit bagi perekonomian Indonesia sangat baik, dan para pengusahanya mendapatkan keuntungan besar. Disamping itu, industri perkebunan kelapa sawit mampu menciptakan lapangan kerja baru, sementara permintaan dunia terhadap minyak nabati dan berbagai produk turunan yang berasal dari minyak kelapa sawit semakin meningkat. Namun demikian, apakah arti semuanya itu bila kehidupan kita terancam akibat semakin rusaknya hutan alam kita yang sangat indah, kaya dengan varietas lokal dan mempesona? Apakah berbagai kerugian yang terjadi (biaya lingkungan dan biaya sosial yang timbul) dapat dibayar dengan keuntungan yang diperoleh?

Masalah yang kita hadapi memang sangat pelik dan rumit, tetapi akan lebih baik PEMDA melakukan konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit distop karena hal itu merupakan salah satu sumber utama deforestasi hutan  dan lahan yang menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan. Selanjutnya, lahan kritis atau lahan terlantar yang sudah tersedia dalam skala yang sangat luas, sekitar 30 juta ha, perlu segera dimanfaatkan secara optimal dan harus diprioritaskan untuk "dikonversi" (dirubah), termasuk diprioritaskan untuk areal pembangunan perkebunan kelapa sawit. Dengan demikian, lahan kritis atau lahan terlantar tersebut dapat menjadi lahan yang produktif, dan dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang tinggi.

Selanjutnya, PEMDA perlu memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap pihak pelaku kegiatan konversi hutan yang tidak bertanggung jawab, yang kemudian menelantarkan lahan menjadi semak belukar atau lahan kritis baru. Sanksi yang tegas juga harus diberikan kepada perusahaan pembuka lahan hutan dengan cara membakar. Disamping itu, pemerintah juga harus tanggap dalam menyelesaikan konflik lahan antara masyarakat dengan pihak perusahaan pemilik konversi lahan.

Kelapa sawit sebagai tanaman penghasil minyak sawit dan inti sawit merupakan salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi Indonesia. Cerahnya prospek komoditi minyak sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia telah mendorong pemerintah untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit. Tetapi dibalik keuntungan finansial yang kita dapatkan banyak dampak negatif yang harus kita terima juga mulai dari lingkungan alam, masyarakat sekitar, dsb. Dan hal itulah yang menjadi dilematika untuk perkebunan kelapa sawit. 

Harapan Dalam Model Pembangunan

Setiap perubahan memberikan catatan khas sepanjang pelayaran sejarah. Globalisasi sebagai sebuah realitas perubahan modern telah menjadikan dunia tempat kita hidup kini terasa kian sempit. Sistem politik, ekonomi, sosial, budaya, keamanan, ilmu pengetahuan dan sebagainya menuntut tanggung jawab semua warga kampung dunia. Tidak bisa tidak, setiap warga kampung harus membuka isolasi dan menantang badai globalisasi. Desa dan kampung adalah miniatur dunia. Saatnya kita berpikir bagaimana menggali keluhuran kampung dan menjadikannya bekal untuk mengarungi samudera hidup. Bukan Sebaliknya!. Tanah Mentawai/Bumi Sikerei/ Polak teteu juga miniatur untuk masa depan generasi berikutnya. Polak Teteu, tanah sikerei adalah tanah agaria. Untuk itu perkebunan kelapa sawit tidak cocok ditanam di tanah mentawai, jangan sampai privasi tanah mentawai diganti fungsinya.  Mengubah & Menerima kelapa sawit berarti kita telah merampas kehidupan generasi yang akan datang,  telah menjual hidup kita dan secara tidak langsung kita telah menyumbang negara-negara maju, sehingga kita hanyalah korban dari para pemilik modal yang memiliki gaya hidup yang instan, konsumerisme dan hedonisme. Lantas apa yang kita benahi dalam pola hidup kita? Dalam situasi seperti ini, kita dituntut berpartisipasi mencari model pembangunan lokal di tengah arus globalisasi yaitu Mengembangkan politik Ekonomi Kerakyatan. Penataan sistem politik daerah dengan fokus pada ekonomi lokal sangat memperngaruhi masyarakat lokal. Yang kedua Pengelolaan APBD yang berpihak pada rakyat. Kemauan untuk bekerja keras dan tidak terlena dengan keadaan alam.

Jalan Baru, jalan Pembebasan

Kondisi Mentawai jangan sampai jauh dari cita-cita masyarakat yakni untuk mentawai yang berdaulat dan bermartabat. Berdaulat atas  setiap jengkal tanah Bumi sikerei dan bermartabat sebagai putra putri mentawai.

Darurat mentawai terhadap kelapa sawit harus diakhiri. Sudah saatnya rakyat bangkit dari kecerdasan dan kekuatan kolektif rakyat, dengan menekankan tiga hal pokok seperti:

Mentawai membutuhkan kepemimpinan yang kuat, efektif dan berpihak pada kepentingan rakyat, anti terhadap pendekatan sektoral, keberanian politik untuk meninjau ulang seluruh kebijakan yang berpotensi menghancurkan ekologis.

Membangun rakyat kritis sebagai wujud dari percepatan perjuangan lingkungan hidup yang sejati menjadi mutlak diperlukan untuk menahan dan melawan laju ketidakadilan lingkungan. Rakyat kritis yang dimaksud adalah rakyat yang mengetahui bahwa ia hidup sedang hidup dalam ancaman ekologis, siap berbuat untuk keselamatan kolektif, dan berani untuk membangun kekuatan politik alternatif yang anti terhadap model pembangunan neolibaralisme yang telah menghacurkan ekologis.

Semangat rakyat yang berkobar-kobar akan dapat menghancurkan ketamakan, kelicikan dan kerakusan para pemilik modal. Hanya dengan rakyat kritislah percepatan terjadinya perubahan mentawai yang berdaulat dan bermartabat. Pemilikan dan penguasaan tanah oleh Rakyat menjadi penyangga bagi pemiskinan berkelanjutan. Kalau tidak inlah yang terjadi PemiskinaN akan berjalan cepat, masal dan bersifat masif.

Sumbangsih dan saran

Kelapa sawit memang sangat banyak memberi keuntungan! Penghasilan minyak sawit telah menembus pasar global dan menjadi komoditas terbesar saat ini. Untuk itulah demi mengejar target yang melimpah dan hasil yang cukup tinggi, perluasan lahan kelapa sawit diperbanyak sehingga hutan-hutan atau tanah adat diubah fungsinya. Hal yang perlu kita kritisi disini adalah pengalihan fungsi lahan. Dimana-mana kampanye pembangunan, pihak pemodal, para pengusaha selalu menyerukan dan menjanjikan kesejahteraan. Visi dan Misi yang “mereka” dengungkan selalu atas nama kesejahteraan, kemakmuran untuk masa depan, tetapi setelah semua berjalan mereka ini “LEPAS TANGAN” dan akhirnya saling melempar tanggung jawab kalau sudah ditagih janjinya.

Kembali peran PEMDA serta keterlibatan masyarakat sangat dibutuhkan. Masyarakat yang cerdas secara inteletual, cerdas secara emosional dan cerdas secara spiritualitas akan mampu melihat masa depan dengan alternatif lain. Pemanfaatan kekayaan alam yang ada di tanah mentawai seperti kelapa, pisang, sagu, talas, coklat, nilam, kayu manis, cengkeh dan lainnya justru inilah yang perlu dikembangkan, bukan sebaliknya dimusnakan kemudian diganti dengan kelapa sawit.

Yang perlu diketahui oleh masyarakat bahwa keuntungan kelapa sawit hanya berpihaK, berlaku dan dialamatkan kepada pemilik modal, para kapitalis, para investor, pengusaha dan penguasa. Sementara kita? Hanya menikmati bencana, polusi dan pencemaran lingkungan. Minyak sawit yang dijual ditanah Indonesia, sesungguhnya hanyalah sisa ampas dari kelapa sawit itu sendiri, sebab minyak yang berkualitas telah dijual di Negara lain.

Tanah Mentawai jangan sampai di Jual  Murah; Jual Cepat; dan Jual Habis. Kita semua dipanggil dan diutus untuk membela dan memperjuangkan kelangsungan hidup tanah sikerei demi kebahagiaan dan kesejahteraan  bersama dan berupaya mendorong semua orang untuk menaruh  sikap hormat, menghargai lingkungan. Bijaksana melakukan usaha konservasi lingkungan hidup yang menjamin kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Memberikan tanah kita kepada pemilik modal dan menerima kelapa sawit sama saja kita membiarkan para pegusaha memiliki “Tubuh yang makin berlemak” dan mendukung pola hidup yang Korupsi, kolusi dan Nepotisme sehingga mereka ini semakin memiliki rekening Bank yang “Menggendut”. Hanya ada dua pilihan yang kita jalani, pertama:BERTOBAT dan BEKERJA KERAS menyelamatkan dan menjaga bumi sikerei agar masa depan tetap ada, agar kehidupan tetap ada. Atau pilihan lain, kita DIAM dan semuanya habis dalam kerakusan dan ketamakan segelintir orang.

Menilai Persoalan Alam Dengan Kaca mata Iman

Tanah dan bumi yang diciptakan sungguh amat baik. Ia tercipta dari sebuah kehendak cerdas sekaligus Ilahi. Ia ada untuk semua yang ada. Ia ada untuk mengekspresikan sebuah cinta Ilahi yang merasuki sejarah kemanusiaan dan menghadirkan segala hasrat kebaikan bagi semua yang hidup dalam bentangan sejarah. Tapi k,ini rupa tanah mentawai dan rupa bumi yang sakral dan amat baik adanya secara asali, semakin hari semakin rusak, hancur dan retak. Bumi dan tanah dalam keseimbangan almami yang dibangun dengan sungguh amat bijaksana oleh daya kekuatan Ilahi sekaligus kerja alam selama miliaran tahun, dihancurkan hanya dalam hitungan detik. Itulah realitas kehancuiran yang menafikan pertalian keluarga antara “Ada yang Transenden sebagai Pencipta, umat manusia dan segenap ciptaan lainnya”. Tanah yang diubah prefasinya sehingga bumi menangis dengan keras menyadarkan kita akan sebuah logika perpikir liar yang sudah dan sedang merasuki manusia. Logika tentang kenikmatan sementara dan palsu yang melahirkan keserakahan.  Logika ini memperlihatkan kepada kita bahwa umat manusia zaman ini telah mengabaikan Roh solidaritas antar umat manusia dengan segenap ciptaan dan generasi di masa depan. Fakta dramatis ini menunjukan kepada kita pertarungan yang tak adil antara keserakahan, kekuasaan, egoisme kapitalis dan kealpaan global dengan masyarakat kecil.

Kebangkitan bumi dan tanah menyuarakan fakta kehancuran global akibat keserakahan segelintir orang. Karena itu yang perlu kita hayati dan maknai dalam hidup sebagai orang beriman adalah:”yang disediakan tanah dan bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan tiap orang, tetapi tidak untuk memenuhi keserakahan tiap orang”. Artinya setiap orang hanya berkenan mengambil sesuatu yang betul-betul ia perlukan dari bumi dan tanah ini, sebab jika ia mengambil lebih, pasti orang lain akan berkekurangan dan bumi akan terkuras habis. Inlah aspek  “Etika Kecukupan” yang melandasi paradigma “Kesejahteraan bersama dan kebaikan bersama”. Jangan sampai ada ratap tangis dikampung halaman kita hanya karena kealpaan dan kelupaan, karena keserakahan segelintir orang.

Ketika tanah sikerei ini diubah prefasinya dari tanah agraria menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, maka tanah rahim bumi sikerei semakin digerogoti, dikuras, dan dihancukan secara tak terkendali oloeh mesin-mesin Perusahaan raksasa multi-nasioanl, atas nama pembangunan, ekonomi, kemajuan, peradaban, investasi masa depan, maka suatu saat nanti, keberadaan bumi sikerei hanyalah tinggal sebuah potret buram dari seonggok bola  batu panas dan masif, yang menggelinding liar tanpa penghuni, tanpa kehidupan dan tanpa makna. Mari selamatkan Bumi sikerei dari kelapa sawit!!!!

Tinggal di Cibinong-Bogor Jawa Barat

Komentar

wawan
bengkulu
Jumat
20 April 2012 | 00:33:00 WIB
di desa kami sekarang sedikit hutan nya ingin di tanami kelapa sawit PT sawit.. di desa kami itukan tingkat pengangguran nya sangat tinggi.. bukan nya dengan adanya sawit di desa kami itu sangat bagus untuk desa kami.. jadi wawan mohon saran dari anda.. apa yg harus kami lakukan sekarang.. di tunggu.

Kirim Komentar

  kode:
PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.