Artikel » Budaya/Pumuman

Permusuhan Bulan dan Matahari

Oleh: Cerita Rakyat
Senin, 06 Agustus 2012 | 23:43:00 WIB
Permusuhan Bulan dan Matahari

Permusuhan Bulan dan Matahari: Ilustrasi

Pada zaman dahulu Matahari itu besar dan cahayanya sangat panas. Di masa itu matahari juga tidak sendiri, dia ditemani anak-anaknya yang juga ikut bersinar. Oleh sebab itu sinarnya terasa sangat panas. Semua orang tidak bisa keluar dari rumah untuk mencari penghidupan siang hari. Pada malam harilah, ketika matahari tidak ada lagi, barulah orang-orang bisa bekerja. Begitu juga binatang-binatang peliharaan mereka, hanya bisa keluar pada malam hari.

Karena manusia hanya melakukan kegiatan pada malam hari, manusia menjadi akrab dengan bulan. Setiap hari mereka hanya bertemu bulan dan anak-anaknya, yaitu bintang-bintang yang selalu mengikuti bulan.

Ketika sang bulan melihat manusia yang sangat begitu bersusah payah mencari nafkah kehidupannya, maka timbullah rasa belas kasihan di hatinya. Ia berjanji akan membantu manusia agar lepas dari cengkraman matahari.

Pada suatu hari Bulan memulai rencananya untuk membantu manusia. Dia menyembunyikan anak-anaknya. Setelah bintang-bintang disembunyikan dia pergi mencari buah kelapa yang muda. Ketika kelapa yang dicari sudah dapat, sang bulan memakan ngangairat (tempurung kelapa yang masih muda dan bisa di makan), sehingga semua gigi dan mulutnya menjadi merah seperti darah. Setelah itu dia menemui Matahari.

“Sahabatku, lihatlah semua gigi dan mulutku yang penuh dengan berlumuran darah“, kata Bulan.

Matahari yang melihat semua itu menjadi sedih lalu ia bertanya “apakah yang terjadi sobat? Dan siapa yang melakukannya?”

 “Tidak ada yang melakukannya, tetapi aku telah memakan semua anak-anakku“, jawab sang rembulan. Dengan nada tak percaya mata hari bertanya lagi kepada bulan katanya “Mengapa engkau melakukan semua itu, bukankah mereka itu anak-anakmu?”.

“Aku tahu mereka itu anak-anakku, tapi karena mereka tidak mau menuruti segala perintahku, sehingga aku memakan mereka”,  jawab sang rembulan.

Setelah sang bulan memberitahukan kejadian itu kepada matahari kemudian ia pergi meninggalkan mata hari. Matahari belum sepenuhnya percaya atas segala perkataan bulan tersebut sebelum ia membuktikannya sendiri.

Saat malam, matahari melihat Bulan hanya muncul sendirian tanpa bintang-bintang. Beberapa malam dia memperhatikan, tetap saja tidak ada satu pun bintang yang tampak.  Matahari tidak tahu bahwa Bulan sudah menyembunyikan bintang-bintang di suatu tempat yang tidak diketahuinya.

Setelah mata hari membuktikannya sendiri bahwa, bulan sungguh-sungguh telah memakan semua anak-anaknya, ia menjadi percaya. Matahari pun memakan anak-anaknya sehingga tidak ada yang tersisa. Sesudah ia melakukan semua itu, matahari pergi kepada sahabatnya, yaitu bulan.

“Sahabatku bulan, aku juga telah memakan semua anak-anakku“.

Bulan yang mendengar pengakuan sahabatnya itu, dengan mimik yang di buat-buat, ia menjadi sedih, padahal dalam hatinya ia sangat senang. Karena telah berhasil mengelabui sahabatnya itu. Sesudah matahari mengatakan semua itu kepada sahabatbya, lalu ia pergi meninggalkannya.

malamnya bulan mengeluarkan kembali bintang-bintang dari tempat persembunyiannya. Langit pada malam hari kembali penuh dengan bintang. Pada suatu malam, matahari melihat melihat semua itu. Sungguh geram hatinya, karena ia telah di bohongi sahabatnya.

Dengan hati yang geram matahari mengambil semua persenjataannya, kemudian ia pergi menghadang sang bulan. Setelah sampai, tanpa basa basi mata hari langsung memotong tubuh bulan sehingga tinggal sebelah. Sejak saat itulah terjadinya bulan setengah. Begitu juga dengan bulan tidak mau kalah, lalu ia mengambil persenjataannya kemudian ia memotong semua permukaan tubuh matahari, dan sejak saat itulah sinar mata hari menjadi berpencar-pencar.

Sejak sat itulah mata hari tidak begitu terasa panas, tetapi orang-orang belum bisa keluar pada siang hari. Melihat panas disiang hari sudah mulai berkurang, orang-orang mencari tahu penyebabnya. Pada malam hari ketika bertemu Bulan, mereka bertanya pada bulan. Bulan menceritakan semua, sehingga saat ini panas matahari agak berkurang.

Mendapat penjelasan seperti itu, orang-orang mengadakan parurukat (pertemuan). Semua yang hadir sepakat membantu bulan untuk lebih mengurangi panasnya matahari. Berhari-hari mereka membuat panah yang beracun. Setelah semua selesai mereka bersama-sama memanahi matahari.

Matahari kesakitan oleh panah-panah beracun itu. Orang-orang tetap memanah, sampai hampir habis anak panah mereka. Karena tidak tahan terkena panah beracun, pelan-pelan matahari menjauh dari orang-orang yang memanahnya. Menjauh dari bumi. Maka sejak saat itulah matahari sudah tidak begitu panas sampai saat ini dan manusia pun sudah dapat melakukan semua pekerjaannya di siang hari.

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.