Artikel » Budaya/Budaya Mentawai

Tradisi Mentawai Kebersamaan dalam Otcai

Oleh:
Rabu, 03 Oktober 2012 | 12:35:00 WIB
Tradisi Mentawai  Kebersamaan dalam Otcai

Tradisi Mentawai Kebersamaan dalam Otcai: Foto: proses pembagian otcai di Sikabaluan-Bambang Sagurung

Otcai (jatah) merupakan sebuah tradisi pembagian jatah makanan secara rata kepada tiap kepala suku di Uma pada suku Mentawai.

Menurut Kornelius Taleku (60), salah satu tokoh adat di Sikabaluan, tradisi otcai merupakan simbol kebersamaan dan kekeluargaan di Mentawai. Pembagian otcai biasanya dilakukan pada pesta-pesta yang dilakukan di uma, baik itu perkawinan atau acara ritual lainnya.

Pembagian otcai dalam pesta di Mentawai seperti pesta perkawinan biasanya diberikan pada waktu mengambil kayu api untuk keperluan pesta, saat akan memberi makan untuk pengantin dan menutup pesta ketika anggota suku akan membubarkan diri.

Jika saat pesta semua anggota suku berkumpul, jumlah otcai yang dibagi bisa mencapai ratusan tumpuk. Pembagian jumlah otcai biasanya dihitung dari jumlah kepala keluarga dan anak muda. “Keluarga yang tidak datang karena ada halangan atau ada di luar Mentawai juga ikut dihitung untuk diberikan otcai,” kata Kornelius.

Jika dilihat sepintas, kegiatan membagi otcai terkesan biasa dan gampang dilaksanakan, hanya menghitung jumlah keluarga yang datang dan membagi tumpukan, semua beres. Namun bukan hanya sekedar itu. “Kalau hanya untuk membagi begitu saja memang mudah, namun pembagian otcai ini kan ada dagingnya, ada tulang dan ada bagian-bagian yang harus dibagi rata, nilainya itu kebersamaan,” jelas Kornelius.

Agar pembagian adil, kata Kornelius, setelah babi disembelih, daging akan dipotong-potong sebesar kepalan tangan. Saat akan memotong daging inilah dipisahkan bagian-bagian dari daging babi tersebut. Misalnya bagian kaki, bagian perut, dan beberapa bagian lainnya.

Waktu membagi otcai yang berperan itu bukan satu orang, namun bisa mencapai tiga hingga lima orang. “Kalau sendiri yang membagi dengan jumlah otcai mencapai ratusan maka tidak akan selesai, apalagi orang yang tidak biasa, terkadang saat yang membagi tiga hingga lima orang kadang terjadi kesalahan karena ada pembagian yang terlewati,” katanya.

Namun tradisi sederhana yang sarat dengan nilai ini, lanjut Kornelius, sudah jarang dilakukan generasi muda Mentawai. Generasi sekarang menurutnya agak gengsi mengambil bagian dalam acara pembagian otcai karena adanya paradigma hal-hal seperti itu tugasnya orang tua.

“Untuk budaya seperti ini, kita harus terjun langsung, dari pengalaman ini kita akan bisa belajar. Kalau tidak seperti itu bagaimana ke depan orang tua meminta kita untuk berperan,” katanya

Tau Taelagat, 40 tahun, warga Desa Simatalu menyebutkan, agar generasi muda mengenal budaya dan adat istiadatnya, mereka harus dilibatkan sejak kecil. “Anak muda harus dibiasakan melakukan kegiatan tradisinya agar mereka tidak lupa,” ujarnya.

Kegiatan tradisi, menurut Tau yang pelibatan generasi muda meliputi tradisi mendirikan bangunan, membuat tobat, membuat racun panah, mencari ikan, mencari kayu api, hingga membuat pembalut tembakau untuk rokok sehari-hari.

“Kalau tidak terlibat langsung maka dia akan tertinggal dan ditertawakan orang. Kita sebagai orang tua juga akan merasa malu karena tak berhasil mewariskan budaya kepada anak,” katanya.

Tau Taelagat melihat, generasi Mentawai yang ada di pedalaman dengan yang ada di pusat kabupaten atau kecamatan akan jauh berbeda dalam menyerap budaya. Menurutnya, generasi Mentawai yang tinggal di pedalaman lebih cepat menangkap dan menjalankan budaya Mentawai karena kegiatan mereka umumnya berkaitan erat dan masih menganggap budayanya sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupannya. (bs)

Komentar

Kirim Komentar

  kode:
PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.