Home/ Mentawai News
A A A
Banjir Bandang, Penebangan Hutan Jadi Penyebab
Sabtu, 25 Agustus 2012 | 11:32:00 WIB
Banjir Bandang, Penebangan Hutan Jadi Penyebab

Banjir Bandang, Penebangan Hutan Jadi Penyebab: Banjir Bandang Padang, musallah di Batu Busuak, Kelurahan Lambung Bukit, Pauh, Padang rusak diterjang banjir bandang. (rus/puailiggoubat)

Aktivitas penebangan hutan untuk diambil kayunya diduga menjadi penyebab banjir bandang.

PADANG--Ermawati, 40 tahun, menatap kosong bangunan rumahnya yang rusak akibat terjangan banjir bandang saat menjelang berbuka, pukul 18.30 WIB, Selasa 24 Juli lalu. Bencana alam yang merusak tempat tinggalnya di Batu Busuak, Kelurahan Lambuangbukik, Kecamatan Pauh tidak bisa diterimanya, hanya sekejap rumahnya hancur kena hantam gelondongan kayu yang hanyut dari hulu sungai Batang Kuranji.

Sambil duduk menatap sisa rumahnya dan memeluk anaknya Musliman, 2 tahun, Ermawati bercerita pada Puailiggoubat saat banjir bandang datang, sesaat beduk tanda berbuka berbunyi. Ia lantas menunjuk ruang tengah rumahnya tempat hidangan berbuka disajikan. ”Tempat kita duduk ini adalah ruang tengah, disinilah disajikan makanan itu,” tuturnya.

Namun mendadak sekitar jam 06.30 WIB, suara gemuruh dari hulu sungai terdengar keras, ia dan suaminya Sarkunuk, 50 tahun, bersama enam orang anaknya berlarian ke luar rumah. ”Galodo tibo, galodo tibo! Itulah teriakan warga saat itu,” katanya.

Air berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk bergulung-gulung menuju ke bawah. ”Awalnya pada pukul enam itu air memang sudah keruh, tapi tidak hitam, namun pukul setengah tujuh itulah air bah beserta kayu dan kelapa ikut terbawa arus,” katanya.

Suasana panik membuat mereka tidak bisa menyelamatkan satu barang pun. Saat itu, air terlebih dahulu menghantam mushalla dekat rumahnya. Lalu kayu-kayu menghantam rumahnya disusul air coklat kehitaman menenggelamkan isinya. ”Perlahan-lahan rumah kami disini tenggelam, yang tinggal hanya bagian depan, makanan untuk berbuka puasa itu ikut dibawa hanyut,” katanya menceritakan kejadian malam itu.

Air baru surut tengah malam dan Ermawati menyaksikan rumahnya sudah hancur. Semua perabotan termasuk pakaian rusak dan hanyut. ”Tak ada yang bisa diselamatkan di rumah sebab pakaian dan makanan serta perabotan lainnya sudah habis dibawa air,” katanya.

Ermawati tidak sendirian, rumah adiknya Enen yang bersebelahan dengan rumahnya juga rusak. Untuk sementara mereka tinggal di rumah saudara ibunya di daerah itu. ”Kami tidak tahu bagaimana membangun rumah lagi, suami saya yang petani sawah, hasil tani hanya bisa untuk biaya makanan sehari-hari, satu-satunya kami berharap dari pemerintah segera memberikan bantuan untuk membangun rumah,” harapnya.

Banjir bandang yang terjadi Selasa malam, menyapu empat kecamatan dengan 10 kelurahan terparah. Banjir tersebut bersumber dari dua aliran sungai yaitu Batang Kuranji dan Batang Arau. Aliran Batang Kuranji melintasi Kecamatan Pauh, Kuranji, dan Nanggalo. Sementara Batang Arau melintasi Kecamatan Lubuk Begalung, Lubuk Kilangan dan Padang Selatan.

“Dari empat kecamatan ini ada 10 kelurahan terparah, saat ini BPBD dan tim gabungan sedang melakukan evakuasi ke lokasi yang aman karena rumah warga tergenang air bercampur lumpur setinggi 1 meter lebih,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Padang, Dedi Henidal kepada Puailiggoubat sehari setelah kejadian.

Kerugian banjir bandang yang melanda Padang, Sumatera Barat, pada Selasa 24 Juli kemarin malam diperkirakan mencapai Rp15,49 Miliar. Kerugian itu tercatat di enam kecamatan yang ada di Kota Padang.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Kamis 26 Juli 2012, hingga saat ini masih terdapat 3.636 pengungsi. Sedangkan jumlah rumah yang mengalami kerusakan berat berjumlah 95 unit, kerusakan sedang 172 unit, dan 249 unit bangunan rusak ringan.

Sementara itu ada lima unit jembatan rusak yakni dua di Limaumanis Selatan dan masing-masing satu di Limaumanis, Batugadang dan Bungus Timur. Jembatan  yang rusak di Limaumanis, tepatnya Batubusuak sempat membuat warga terisolir karena putusnya sebagian badan jembatan.

Sehari setelah banjir, warga bahu membahu membuat jembatan darurat dari pohon kelapa. Meski hanya bisa dilalui pejalan kaki, jembatan sepanjang 15 meter tersebut sementara bisa memutus keterisoliran warga Batubusuak dengan Kota Padang.

Saat ini, korban yang rumahnya rusak mengungsi di tenda darurat yang didirikan BPBD, mesjid dan musholla serta rumah kerabat. Sampai saat ini, tim terpadu BPBD Kota Padang terus memberikan bantuan makanan, beras, tenda, serta selimut kepada pengungsi. 

“BPBD menetapkan tanggap darurat hingga 15 hari ke depan sejak Rabu, 25 Juli, namun kita masih melihat perkembangannya, kalau masih belum selesai maka tanggap darurat akan kita perpanjang,” kata Dedi.

“Sementara itu, tim kesehatan sudah mendirikan pusat kesehatan yang dibantu oleh TNI. Kami juga meminta kepada masyarakat jika ada yang sakit selama di pengungsian segera berobat di empat pos yang telah didirikan dan di puskemas terdekat. Kita sudah menyediakan itu, “ tambah Dedi. 

Akibat Penebangan Hutan di Hulu

Sementara Wali Kota Padang Fauzi Bahar mengakui banjir bandang terjadi akibat adanya pembalakan (penebangan) liar di hulu sungai.  ”Saya menduga, banjir bandang disebabkan akibat illegal logging, di hulu sungai masih banyak warga menebang kayu di hutan. Ini ditemukan bekas potongan kayu yang dihanyutkan banjir bandang tersebut,” katanya pada wartawan di Palanta rumah dinas wali kota, jalan Ahmad Yani Padang.

Katanya, selama ini pemerintah Kota Padang sudah sering melakukan razia, namun gagal menemukan pelaku dan hanya bisa menyita barang bukti kayu.”Banyak kayu tak bertuan ditemukan, saya menduga ada oknum TNI, Polisi dan Pol PP yang menjadi dalang pembalakan liar ini, sebab setiap melakukan razia selalu bocor, ini ada pelaku dari dalam,” katanya.

Melihat kondisi ini Fauzi Bahar akan melakukan sayembara kepada warga setempat, siapa yang melihat pembalakan liar segera melaporkan pada wali kota Padang. ”Nanti kita akan beri hadiah kepada warga yang melaporkan,” ujarnya.

Selain pembalakan liar, katanya, ada pembentukan danau kecil dihulu sungai, terjadinya danau kecil ini akibat longsor. ”Ketika tidak bisa lagi menampung danau air hujan ini maka danau kecil itu berubah menjadi air bah, kita juga tidak mencek danau-danau kecil tersebut,” katanya. 

Sementara Koordinator Masyarakat Anti Illegal Logging (MAIL) Sumbar Vino Oktavia mengatakan, sudah bertahun-tahun aktivitas pembalakan liar itu dilakukan. Pembalakan liar itu terjadi sepanjang kawasan Bukit Barisan di timur Kota Padang, namun tidak ada tindak lanjutnya.

”Pembalakan liar itu mulai dari Bungus bagian selatan Kota Padang hingga ke Lubuk Minturun yang terletak di bagian utara, selama ini pemerintah diam-diam saja,” katanya.

Dari investigasi MAIL, modus pembalakan liar di Padang dilakukan dengan cara mengangkut kayu hasil pembalakan liar sedikit demi sedikit pada malam hari. ”Mereka mulai mengangkut malam hari, setelah pukul 23.00 WIB dengan menggunakan becak motor supaya tidak curiga, dengan kondisi ini kita mendesak pemerintah untuk bertindak tegas dan tidak lagi main-main. Kali ini belum ada korban jiwa, apa kita akan menunggu jatuh korban dulu?” katanya.

Sementara Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sumbar Khalid Saifullah mengatakan, Batang Kuranji yang merupakan daerah aliran sungai (DAS) telah rusak dan terjadi perubahan fungsi. Begitu juga dengan DAS Air Dingin dan DAS Arau.

“DAS yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air secara alami sudah rusak, yang umumnya disebabkan penebangan hutan di bagian hulu sungai,” kata Khalid. (r/o)

Komentar

Kirim komentar anda
Nama
Alamat
Email
Komentar
Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.