Home/ Mentawai News
A A A
Pembersihan Lahan Huntap Menunggu Alat Berat
Rabu, 08 Mei 2013 | 11:29:00 WIB
Pembersihan Lahan Huntap Menunggu Alat Berat

Pembersihan Lahan Huntap Menunggu Alat Berat: Foto:Alat berat yang akan digunakan untuk pembersihan lahan hunian tetap di dermaga Sikakap-Dok

PADANG-Proses pembersihan lahan (land clearing) lokasi hunian tetap bagi korban gempa dan tsunami Mentawai di Pagai dan Sipora Selatan baru bisa dilakukan bila alat berat tiba di lokasi yang sudah ditentukan.

Kepala Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi Huntap Mentawai, BPBD Sumbar, Suryadi Eviontri, mengatakan ada 10 alat berat yang sudah tiba di Sikakap. Sementara alat berat lain masih menunggu tiba dari Tanjung Priok sekitar 40 alat berat lagi.

“Untuk semua izin baik IPK dan tukar menukar kawasan sudah selesai, kita mulai land clearing kalau alat berat semuanya sudah tiba di lokasi, kita rencanakan di Pagai Selatan itu mendarat di Bake, Lakkau sekitar 19 alat berat, Pagai Utara ada 16 alat berat yang diletakkan di Taikako, sedangkan Sipora Selatan 15 alat diletakkan di Sao dan Sagitci,” kata Suryadi, Selasa 23 April di ruang kerjanya di kantor BPBD Sumbar di Padang.

Saat ini, 60 personil TNI yang di sebar di empat titik sudah mulai berjaga. “Total personil TNI yang diturunkan itu 250 orang, setelah alat tiba, baru seluruh TNI turun ke lapangan,” tambah Suryadi.

Ia juga mengatakan, anggaran operasional  land clearing yang akan dikerjakan Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) berkisar Rp17-21 miliar. Namun kepastian waktu untuk serentak dimulainya land clearing belum bisa dipastikan namun perhitungannya keseluruhan alat berat akan tiba sekitar Mei.

Sementara itu, fasilitator Huntap yang sudah ditunjuk akan mulai bekerja di lapangan Juni mendatang untuk untuk melakukan pendampingan kepada Pokmas terkait pendampingan pengelolaan administrasi keuangan pokmas.

Sementara material kayu yang digunakan untuk pembangunan hunian tetap (huntap), BPBD Sumbar 2.072 kepala keluarga (KK) korban gempa dan tsunami membeli kayu dari Primer Koperasi Angkatan Darat (Primkopad) masing-masing 2 kubik.

“Warga diwajibkan membeli kayu dua kubik dari Primkopad untuk bahan membangun huntap, jadi tidak semuanya harus mereka beli, sementara selebihnya sekitar enam kubik dipersilahkan membelinya di tempat lain,” kata Suryadi.

Untuk harga satu kubik kayu, disesuaikan dengan harga penjualan di Mentawai. Dana untuk membeli kayu itu ada dalam dana Rp68 juta yang diberikan oleh pemerintah melalui pokmas, termasuk material lainnya. Huntap yang akan dibangun itu berbentuk semi permanen dengan ukuran 6 x 6 meter dengan luas tanah 30 x 36 meter dan 4 ruang kamar.

Saat ini dana yang disetorkan BPBD Sumbar ke rekening pokmas sekitar Rp33.875.000 setiap kepala keluarga, digunakan untuk membeli material kayu, pasir hingga tegak payung.

Sedangkan syarat pencairan dana tahap kedua setelah tegak payung, namun kalau belum selesai sampai 31 Desember nanti, termin kedua pemilik huntap tidak berhak mendapat tambahan dana kedua. “Artinya dianggap penuh telah menerima Rp68 juta,” kata Suryadi.

Menurut Suryadi, kalau tidak ada rintangan, huntap bisa selesai 17 Agustus nanti. Rencananya presiden yang meresmikan huntap tersebut, meskipun batas waktu per 31 Desember 2013, dan itu target kita,” katanya.

Di rekening BPBD Mentawai, saat ini juga ada anggaran sekitar Rp206 miliar untuk pembangunan fasilitas umum, namun kata Suryadi, baru bisa cair setelah land clearing dan pembangunan huntap selesai. “Dana itu tidak boleh diganggu gugat oleh siapa pun sekali pun bupati, sebelum huntap selesai,” katanya.(trs/r)

Komentar

Kirim komentar anda
Nama
Alamat
Email
Komentar
Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

PT Suara Alam Mentawai
Banner Pualiggoubat
 

All copyrights property of third party used in this site and its corporate sites still owned by respective owners.